Nasional

World Chocolate Day 2026 di Tanggamus: Bupati Gaspol Hilirisasi Kakao & Kopi, Target Nilai Tambah Petani Melonjak

Admin Diperbarui 15:36 3 menit membaca
Ukuran Teks:
World Chocolate Day 2026 di Tanggamus: Bupati Dorong Hilirisasi, Petani Siap Naik Kelas

Benteng Fakta Tanggamus – Pemerintah Kabupaten Tanggamus tancap gas mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah seperti kakao, kopi, dan kelapa. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Bupati Tanggamus dalam momentum World Chocolate Day 2026 yang digelar di Pekon Sidomulyo, Kecamatan Semaka, Selasa (28/7/2026).

Mengusung tema Strengthening Sustainable Cocoa Partnerships through Agroforestry and Market Collaboration, kegiatan ini menjadi ajang strategis mempertemukan pemerintah, investor, hingga pelaku industri dalam satu panggung kolaborasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kementerian Perindustrian RI, Pemerintah Provinsi Lampung, Bank Indonesia, Balai Besar TNBBS, Rikolto Indonesia, Preferred by Nature, perusahaan pengolahan kakao nasional dan internasional, akademisi, serta ratusan petani kakao dari berbagai wilayah di Lampung.

Bupati Tanggamus, Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., menegaskan bahwa Tanggamus memiliki potensi besar sebagai sentra kakao nasional. Saat ini, luas perkebunan kakao rakyat mencapai 13.640 hektare dengan produksi sekitar 8.672 ton, yang menjadi sumber penghidupan bagi 17.634 kepala keluarga.

Namun, menurutnya, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak optimal karena minimnya industri pengolahan di daerah.

“Kita tidak ingin hanya jadi penghasil bahan mentah. Hilirisasi harus ada di Tanggamus. Kalau pabrik berdiri di sini, pajak masuk daerah, lapangan kerja terbuka, harga lebih stabil, dan masyarakat mendapat manfaat langsung,” tegasnya.

Ia juga menyoroti komoditas kopi robusta Tanggamus yang selama ini masih dikirim ke luar daerah untuk diolah.

“Selama ini nilai tambah justru dinikmati daerah lain. Ke depan, kita ingin semua proses produksi ada di Tanggamus,” ujarnya.

Tak hanya itu, Bupati juga mendorong pengembangan industri berbasis rumah tangga, khususnya untuk produk cokelat. Ia bahkan menargetkan kelompok PKK bisa menjadi motor penggerak ekonomi baru melalui pengolahan kakao skala kecil.

“Dengan mesin sederhana, ibu-ibu PKK bisa menghasilkan produk cokelat bernilai jual tinggi. Ini peluang ekonomi yang harus kita dorong,” tambahnya.

Pemkab Tanggamus juga membuka pintu investasi seluas-luasnya, termasuk peluang kerja sama dengan investor dari Korea Selatan guna mempercepat pengembangan industri hilir sektor perkebunan.

Sementara itu, Direktur Program Kakao Asia Tenggara Rikolto, Nuzul Qodri, mengungkapkan bahwa program Climate Change Adaptation Modality (CCAM) sejak 2023 telah mendampingi 950 petani kakao di Semaka, Wonosobo, dan Pematang Sawa.

Program ini mencakup pelatihan budidaya kakao berkelanjutan, agroforestri, hingga penguatan agribisnis serta distribusi ribuan bibit tanaman pendukung.

Di sisi lain, perwakilan Preferred by Nature, Kiswara Santi, menekankan pentingnya agroforestri dalam menjaga keberlanjutan produksi kakao di tengah ancaman perubahan iklim.

“Kami ingin kakao Lampung kembali menjadi primadona dunia. Tanpa agroforestri, kualitas dan keberlanjutan kakao bisa terancam,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan World Chocolate Day 2026 juga diisi dengan penanaman pohon bersama, kunjungan demplot agroforestri, pameran usaha petani (Farmer Business Showcase), hingga agenda business matching antara kelompok tani dan pelaku industri.

Momentum ini menjadi langkah nyata memperkuat rantai pasok kakao berkelanjutan sekaligus mendorong Tanggamus naik kelas sebagai pusat industri kakao dan kopi bernilai tambah tinggi di Indonesia. (Ady)

Tinggalkan komentar